Tag: Twitter
Tolak RPM Konten Multimedia
by mrbambang on Feb.13, 2010, under Blogosphere, Technotalk
Tolak RPM Konten. Mari Kita Jaga Kebebasan. Begitu pesan di banner buatan Pamantyo itu. Baru baru ini, masyarakat internet Indonesia sedang ramai-ramainya bereaksi atas Rencana Peraturan Menteri (RPM) Kominfo tentang Konten Multimedia yang akan digulirkan. Di Twitter, ramai sekali para tweeps berkicau, berteriak menolaknya. Andaikan benar benar digulirkan, Indonesia akan memiliki Tim Konten Multimedia, Meminjam istilah Enda, Lembaga Sensor Internet Indonesia ini akan memantau aktivitas internet masyarakat. Banyak sekali larangan larangan di sana. Untuk lebih lengkapnya, silahkan baca RPM-nya.
Jadi, Anda menolak atau menyetujui RPM tersebut?
Jangan Kutip Roy Suryo
by mrbambang on Jan.27, 2010, under Blogosphere
Dua tahun yang lalu, gerakan “Jangan Kutip Roy Suryo” sempat ramai mewarnai jagad blogosphere. Bisa dimaklumi karena pada waktu itu terjadi persinggungan yang cukup sengit. Pada waktu itu, situs Depkominfo kena hack dan terpampang gambar Roy Suryo. Diapun berang dan langsung menuduh pelakunya adalah blogger dan hacker. Para blogger pun mengajak Roy Suryo berdialog untuk meluruskan masalah. Akhirnya tibalah waktu bersejarah itu, debat antara Roy Suryo dengan Blogger yang digelar di Universitas Budi Luhur (11/4/08). Selain diskusi terbuka dengan blogger, diadakan juga diskusi UU ITE di Radio Trijaya. Tetapi sepertinya ini tidak bisa mengubah pemahaman Roy Suryo terhadap perbedaan makna blogger, hacker dan cracker.
Nokia N86 untuk Mobile Imaging
by mrbambang on Okt.12, 2009, under Blogosphere, Technotalk
Ilustrasi Nokia N86 (model : tyo)
Pada mudik lebaran beberapa waktu yang lalu, saya mendapat pinjaman dari Nokia untuk mencoba salah satu ponsel mereka agar bisa dicoba selama di kampung halaman. Selain saya, ada beberapa teman yang juga mendapat pinjaman. Hanya pinjaman, bukan pemberian, jadi harus dikembalikan. Tapi lumayanlah bisa mencoba ponsel bagus sambil dipamerin ke teman-teman di kampung
. Dalam hal ini, saya kebagian ponsel tipe Nokia N86. Mungkin ada sebagian teman-teman yang belum tahu mengenai Nokia N86, jadi perlu kiranya saya beri overview mengenai ponsel ini.
N86 adalah ponsel andalan Nokia untuk kategori kamera. Dalam arti ponsel ini dirancang dioptimalkan sebagai perangkat mobile imaging, disamping fungsi utama sebagai alat komunikasi tentunya. Nokia N86 memiliki sensor kamera 8 megapiksel. Dibanding dengan vendor lain, Nokia termasuk terlambat dalam menghadirkan ponsel dengan resolusi sebesar itu. Karena vendor lain sudah jauh lebih dulu meluncurkan resolusi sebesar itu. Bahkan Sony Ericsson dan Samsung saat ini sudah memiliki ponsel dengan kamera 12 megapiksel. Sementara dari Nokia sendiri belum ada kabar kapan meluncurkan ponsel kamera 12 megapiksel.
Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Mungkin itu prinsip yang dianut Nokia khususnya dalam hal kamera ini. Karena datang belakangan, maka beban yang dibawa pun cukup berat. Yaitu sebisa mungkin lebih baik dari yang sudah ada di kelas yang sama. Usahanya tidak sia-sia, beberapa penghargaan pun telah diraihnya. Diantaranya adalah penghargaan dari 2009 TIPA Awards untuk kategori Best Mobile Imaging Devices. TIPA (Technical Image Press Association) Award adalah penghargaan independen yang prestisius untuk industri imaging di Eropa.
Ponsel yang berjalan di atas platform Symbian S60 v3 ini memiliki lensa f/2.8 Zeiss wide-angle zoom. Diperkuat dengan fitur seperti centre weighted exposure, 1/1000 sec. shutter speed, multimode flash dan beberapa mode scene dengan macro sampai 10 cm. Belum lagi kecanggihan teknologi komunikasi dan lokasi. Setelah mengetahui seluk beluk fitur yang ada di dalamnya, saya pun siap membawanya menemani selama libur lebaran. Karena memang selain dipinjami, saya mendapat “tugas” untuk merasakan experience dari ponsel ini. Mengoptimalkan fitur yang ada dan kemudian mempublikasikan ke teman-teman.
Hal yang dicoba pertama kali tentu saja adalah kamera. Mengaktifkan fungsi kamera sangat mudah, yaitu dengan menggeser ke bawah penutup lensa yang ada di body bagian belakang. Sesudah lensa terbuka, maka user interface kamera akan aktif lengkap dengan menu-menunya. Jika tidak ada waktu atau belum bisa mengatur menu, kita bisa langsung memotret yang berarti menggunakan modus Auto. Dan tentu saja hasilnya akan lebih maksimal jika setting diatur terlebih dahulu. Apalagi mengaturnya juga tidak sulit. Misalnya untuk mengambil gambar pemandangan (landscape), tinggal mengakses ikon Scene dan memilih modus Landscape. Contohnya seperti gambar di bawah ini yaitu Jalan Sudirman, Jakarta yang sedang sepi karena ditinggal warganya pulang kampung. Gambar tersebut saya ambil pagi sekitar jam 7 tanggal 19 September 2009 atau sehari sebelum Idul Fitri.

Jendral Sudirman Statue @ Sudirman Street (Camera : N86; Mode : Landscanpe; Album : tinypic.com/a/1cehg/2)
Layanan Web 2.0 yang Makin Meriah
by mrbambang on Jun.23, 2008, under Technotalk
Era Web 2.0 ternyata masih sangat menarik dan semakin ramai. Entah kapan akan era ini akan berakhir dan berganti menjadi Web 3.0. Mungkin saja transisi ke era web generasi mendatang itu terjadi begitu saja tanpa kita rasakan. Mungkin dulu kita mengenal layanan sosial networking hanya Friendster dan MySpace. Setelah cukup lama Friendster digandrungi para muda bahkan hingga sekarang ini, muncul lagi layanan sosial networking baru yang saat ini sedang disukai banyak pengguna internet yaitu Facebook. Facebook hanya salah satu layanan social networking diantara puluhan mungkin ratusan layanan sosial yang hadir di jagad maya.
Indonesia tak mau kalah. Beberapa provider juga merilis layanan sosial untuk kelas lokal seperti KL Face yang saat ini cukup gencar berpromo. Sayangnya, penggunaan nama produk Face terkesan meniru Facebook walaupun dari segi tampilan dan mungkin isi didalamnya berbeda.
(continue reading…)
Mikroblogging, Akankah Hanya Tren Sesaat?
by admin on Jan.19, 2008, under Blogosphere, Technotalk
Menggunakan istilah populer “Tren Sesaat” ini bukan karena saya pendukung RS loh, tapi memang harus diakui bahwa RS ternyata telah berjasa kepada blogger dengan pemberian istilah tersebut. Pun, kalau melihat kenyataan, perkataan dia ada benarnya juga. Misalnya Friendster hanyalah tren sesaat, bagi saya ini benar karena saya hanya sebentar saja benar-benar sering mengakses FS. Sekarang udah sangat jarang sekali malahan. Menurut Black Claw di artikelku sebelumnya, “Frenster memang tren sesaat. Sekarang jamannya Facebook.”. Benar juga ya…
Bubar bubar!!! Sudah jangan membahas RS lagi, biar dia bisa tidur tenang. Sekarang membahas yang lain saja. Ada yang berbeda pada dua artikelku sebelumnya (ini dan itu), yaitu saya posting sangat pendek dari biasanya yang panjang plus amburadul
. Artikel puendek tersebut adalah ciri khas dari mikroblogging, seperti halnya yang ada di Jaiku, Twitter maupun Kronologger
(continue reading…)


























