Wartawan Bodrek
by mrbambang on Mar.23, 2009, under Blogosphere

Coretan "Jon Sayuti Wartawan Bodrek" di Komdak. Sampeyan kenal dia?
Siang itu, di tengah teriknya panas matahari yang disempurnakan lagi dengan kemacetan lalu lintas. Saya melewati di jembatan penyeberangan di Komdak. Dari sekian banyaknya coretan grafis di situ, ada sebuah tulisan yang menarik mata saya. “John Sayuti Wartawan Bodrek Tukang RUPS,” begitu isi tulisan tersebut. Selain itu, saya juga menemukan tulisan lain yang mengarah kepada John Sayuti wartawan bodrek. Selain di Komdak, coretan-coretan mengenai wartawan bodrek juga bisa ditemui di beberapa tempat. Seingatku, di sekitar jalan Thamrin juga ada coretan “Wartawan Bodrek Raja Souvenir”, hanya saja pada waktu itu saya tidak sempat mengabadikan dengan memotretnya.
Entahlah mengapa muncul istilah wartawan bodrek, saya kurang tahu. Mengingat saya juga masih termasuk baru di dunia pers. Tapi paling tidak saya mengetahui yang dimaksud wartawan bodrek, yaitu istilah untuk wartawan yang tidak punya media tapi dengan menggunakan status wartawan untuk melakukan pemerasan atas nama media. Mengapa memakai istilah Bodrek, yang notabene adalah merk untuk obat sakit kepala, saya masih belum mengerti. Apakah ulah mereka ini membuat kita pusing atau bikin sakit kepala? Tapi analogi ini sepertinya juga kurang pas karena mereka ini penyebab sakit kepala, bukan obatnya. Tak tahulah, mungkin para wartawan yang sudah senior di sini bisa menjelaskan.
Bagi wartawan yang sehari-harinya berada di lapangan untuk tugas jurnalistik, keberadaan wartawan bodrek ini sepertinya sangat dekat dengan kita. Mereka datang beramai-ramai di suatu event atau konferensi pers dengan membawa kartu nama dan kartu pers dengan nama media yang tidak pernah kita dengar. Terkadang, mereka juga mendompleng memakai nama media yang sudah dikenal. Mereka ini “datang tak dijemput, pulang tak diantar”, eh maksudnya datang tak diundang. Alasannya, meliput kegiatan adalah hak. Ini bisa dimaklumi, yang tak dibenarkan adalah jika menuntut sesuatu dengan kehadiran mereka, yaitu duit.
Misalnya dari yang pernah saya baca pada artikel di Citizen News Suara Merdeka, salah satu perusahaan asuransi di Jakarta Pusat yang baru merayakan hari jadinya, menjadi korban para wartawan bodrek. Pihak humas kelabakan ketika sejumlah wartawan tanpa media itu mendatanginya. Tidak tanggung-tanggung, ada 70 wartawan bodrek. Padahal, humas mengaku tidak pernah menghubungi pers mana pun. Ketika pihak humas mencoba tidak menanggapi, mereka marah-marah dan hendak berbuat anarki. Akhirnya perusahaan terpaksa mengalah dan membagi sejumlah uang ke mereka.
Belum Menentukan Pilihan
by mrbambang on Mar.21, 2009, under Intermezzo
Euphoria kampanye sedang berlangsung. Para calon wakil rakyat memasang muka dan janji paling manis untuk menarik simpati. Semua calon legislator memberikan janji yang baik-baik. Akan begini, begitu, begono. Berbeda dengan Pemilu 2004, saya sudah mantap menentukan pilihan pada waktu itu.
Tapi untuk Pemilu 2009 ini. Sampai sekarang saya masih belum mementukan pilihan. Entahlah. Rasanya kok seperti sudah muak. Eneg aja melihat begitu banyaknya gambar caleg yang terpasang di dinding, pohon, jalan, tipi, internet dan sebagainya. Bukannya menjadi cantik, tapi kampanye malah menambah kotor, menambah sampah, menambah jelek wajah kota. Semoga saja mereka-mereka yang nanti terpilih tidak mengotori Senayan dengan kelakuan-kelakuan ga benernya.
Mungkin sampeyan bisa memberikan rekomendasi atau kampanye di sini? Silahkan. Biarlah nanti saya memutuskan
Curhatnya Onno
by mrbambang on Mar.04, 2009, under Technotalk

Beberapa hari yang lalu, Onno W Purbo mengirimkan surat kepada media massa menyoal kemungkinan monopoli yang dilakukan Microsoft. Seperti ini isinya :
Dengan Hormat,
Microsoft tampaknya melakukan monopoli di Republik Indonesia.
Saya bersama istri saya berkunjung ke Megabazar di JHCC pada tanggal 1 Maret
2009. Kami dengan terpaksa membatalkan niat kami untuk membeli netbook / laptop
dengan prosesor Atom. Praktis semua netbook / laptop dengan prosesor Atom yang
kami temui telah di bundel / pre-install dengan Microsoft & harga yang harus di
bayar sudah termasuk Microsoft di dalam-nya. Artinya, pembeli dipaksa untuk
membayar Microsoft bersama netbook tersebut tidak peduli walaupun tidak akan
digunakan.Paling tidak untuk Netbook, tidak ada toleransi bagi mereka yang ingin
menggunakan open source di laptop-nya, kita semua harus membayar sistem operasi
Mircosoft yang sudah terbundel. Bayangkan jika terjual ribuan laptop / bulan,
artinya bangsa Indonesia harus membayar beberapa milyard rupiah / bulan ke
Microsoft padahal tidak digunakan oleh penggunanya. Padahal jelas-jelas
Pemerintah Indonesia sudah mencanangkan “Indonesia, Go Open Source!”Hal ini tampaknya merupakan pelanggaran terhadap UU 5/1999 tentang larangan
praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Besar harapan saya
teman-teman di redaksi dapat menayangkan hal ini di surat pembaca surat kabar
anda. Semoga dapat menggugah teman-teman di KPPU, Menteri Pedagangan,
MENKOMINFO dan MENRISTEK untuk melihat lebih jauh tentang kasus ini.Jakarta, 1 Maret 2009
Hormat Saya,
Onno W. Purbo, Ph.D
Penulis Teknologi InformasiTembusan:
Ketua KPPU
Menteri Perdagangan
Menteri Komunikasi dan Informasi
Menteri Negara Riset dan Teknologi
Yaaahh, namanya juga bisnis. Microsoft memiliki marketing-marketing yang handal sementara itu Linux paling cuman aktifis. Dan meskipun Onno telah mengirim surat tembusan kepada Ketua KPPU, Menperindag, Kominfo dan Ristek, sepertinya ini hanya dianggap angin lalu saja. Bagaimanapun juga, bagi pemerinahan SBY, Microsoft lebih memukau dibanding Linux. Tentu measih ingat kan ketika beberapa waktu silam Bill Gates berkunjung ke Indonesia, sambutannya luar biasa. Sampai-sampai acara Indonesia Go Open Source saja terpaksa harus mengundur waktunya demi persiapan penyambutan Bill Gates.
Wajah-Wajah Caleg Kita
by mrbambang on Feb.26, 2009, under Opini
Saya lihat potret M. Tongtongsot dari Partai Bulan Pecah terpasang berdampingan dengan gambar G. Gundulpringis dari Partai Bintang Bujel. Kedua-duanya terpampang dengan muka lurus ke depan, dengan tatapan tanpa emosi, seperti foto ijazah kursus montir. Dengan kata lain, orang-orang itu memasarkan diri bukan sebagai pribadi, dengan watak yang tersendiri. Yang tampak di sana hanyalah sebuah tipe. Tipe itu menyatukan entah berapa banyak potret yang berderet-deret, hampir tanpa jarak, dengan nama-nama yang tak akan kita tangkap dengan jelas, apalagi kita ingat, ketika kita lewat di atas motor atau bus. Seorang kawan yang berpengalaman memilih foto wajah buat sampul majalah menyatakan penilaiannya kepada saya: ”92% dari deretan wajah itu tak menarik.” Ia mengatakannya dengan yakin: ”Saya telah berjalan dari ujung Jawa Timur sampai Banten untuk mengamati potret kampanye.”
Begitu tulis Goenawan Mohamad di catatan pinggirnya (caping) yang berjudul “Potret”. Mungkin ada benarnya apa yang ditulis oleh GM dan dipertegas oleh temannya tersebut. Yaitu wajah-wajah caleg kita yang kalau melihatnya bisa tertawa sampai terkekeh-kekeh tapi disamping itu juga miris. Seperti terlihat dari gambar spanduk yang sempat diabadikan oleh orang-orang kemudian tersebar di berbagai milis dan juga janganbikinmalu2009. Contohnya seperti ini :

Bengawan Solo! Riwayatmu Kini…
by mrbambang on Feb.21, 2009, under Blogosphere
Bengawan Solo
Riwayatmu ini
Sedari dulu jadi…
Perhatian insani
Musim kemarau
Tak seberapa airmu
Dimusim hujan air..
Meluap sampai jauh
Mata airmu dari Solo
Terkurung gunung seribu
Air meluap sampai jauh
Dan akhirnya ke laut
Itu perahu
Riwayatnya dulu
Kaum pedagang selalu…
Naik itu perahu
Syair lagu Bengawan Solo yang digubah oleh Gesang tersebut sangat terkenal bahkan hingga sampai mancanegara terutama Jepang. Kabarnya, lagu tersebut pernah digunakan dalam salah satu film layar lebar di Jepang. Sebuah prestasi yang mengagumkan. Gesang lahir pada tanggal 1 Oktober 1917, berarti sekarang sudah hampir berumur 93 tahun. Usia yang cukup sepuh dan waktunya orang-orang muda Solo melanjutkan kiprahnya.

Semangat tersebut saya lihat ada di dalam jiwa para blogger Solo yang bergabung di komunitas Bengawan. Dari milis Bengawan yang saya ikuti, terlihat bagaimana para anak muda ini semangatnya meletup letup dengan berbagai ide-ide hebat. Sosok Gesang yang melegenda juga menginspirasi para blogger Bengawan untuk melakukan hal hal besar. Maka tagline “Komunitas Bengawan! Riwayatmu kini...” bukanlah sesuatu yang berlebihan dan sepertinya sangatlah mencitrakan orang-orang di dalam komunitas yang ingin mencetak sejarah. (continue reading…)









