Tak Berkategori
Tren Selular Indonesia 2009
by mrbambang on Jan.20, 2010, under Tak Berkategori
Postingan kali ini istimewa. Karena inilah postingan pertama di tahun 2010! Setelah sekian lamanya blog ini tertidur karena pengelolanya yang malassibuk. Selain akhir-akhir ini lebih sering update di photoblog sebelah, update di microblog ini itu, jadilah blog ini terbengkalai
.
Dengan berusaha mengumpulkan sisa-sisa semangat yang sudah memudar, saya berusaha untuk membangunkan lagi blog ini. Kebetulan, tadi siang saya mengikuti acara peluncuran layanan mobile advantage Gomobile. Di acara tersebut menghadirkan narasumber dari AC Nielsen Media Research. Irawati Pratignyo, Managing Director AC Nielsen Media Research Indonesia, memberikan presentasi mengenai tren selular Indonesia berdasarkan surveynya pada 2009.

Materi presentasi berisi laporan survey AC Nielsen tersebut saya abadikan dengan kamera. Mari kita simak slide presentasinya satu per satu.
Belum Menentukan Pilihan
by mrbambang on Mar.21, 2009, under Tak Berkategori
Euphoria kampanye sedang berlangsung. Para calon wakil rakyat memasang muka dan janji paling manis untuk menarik simpati. Semua calon legislator memberikan janji yang baik-baik. Akan begini, begitu, begono. Berbeda dengan Pemilu 2004, saya sudah mantap menentukan pilihan pada waktu itu.
Tapi untuk Pemilu 2009 ini. Sampai sekarang saya masih belum mementukan pilihan. Entahlah. Rasanya kok seperti sudah muak. Eneg aja melihat begitu banyaknya gambar caleg yang terpasang di dinding, pohon, jalan, tipi, internet dan sebagainya. Bukannya menjadi cantik, tapi kampanye malah menambah kotor, menambah sampah, menambah jelek wajah kota. Semoga saja mereka-mereka yang nanti terpilih tidak mengotori Senayan dengan kelakuan-kelakuan ga benernya.
Mungkin sampeyan bisa memberikan rekomendasi atau kampanye di sini? Silahkan. Biarlah nanti saya memutuskan
Wajah-Wajah Caleg Kita
by mrbambang on Feb.26, 2009, under Tak Berkategori
Saya lihat potret M. Tongtongsot dari Partai Bulan Pecah terpasang berdampingan dengan gambar G. Gundulpringis dari Partai Bintang Bujel. Kedua-duanya terpampang dengan muka lurus ke depan, dengan tatapan tanpa emosi, seperti foto ijazah kursus montir. Dengan kata lain, orang-orang itu memasarkan diri bukan sebagai pribadi, dengan watak yang tersendiri. Yang tampak di sana hanyalah sebuah tipe. Tipe itu menyatukan entah berapa banyak potret yang berderet-deret, hampir tanpa jarak, dengan nama-nama yang tak akan kita tangkap dengan jelas, apalagi kita ingat, ketika kita lewat di atas motor atau bus. Seorang kawan yang berpengalaman memilih foto wajah buat sampul majalah menyatakan penilaiannya kepada saya: ”92% dari deretan wajah itu tak menarik.” Ia mengatakannya dengan yakin: ”Saya telah berjalan dari ujung Jawa Timur sampai Banten untuk mengamati potret kampanye.”
Begitu tulis Goenawan Mohamad di catatan pinggirnya (caping) yang berjudul “Potret”. Mungkin ada benarnya apa yang ditulis oleh GM dan dipertegas oleh temannya tersebut. Yaitu wajah-wajah caleg kita yang kalau melihatnya bisa tertawa sampai terkekeh-kekeh tapi disamping itu juga miris. Seperti terlihat dari gambar spanduk yang sempat diabadikan oleh orang-orang kemudian tersebar di berbagai milis dan juga janganbikinmalu2009. Contohnya seperti ini :

Pilih Tarif yang Mana?
by mrbambang on Nop.28, 2008, under Tak Berkategori

Brosur Perbandingan Tarif yang dibuat oleh Simpati. sumber : milis
Beberapa hari terakhir ini, telekomunikasi Indonesia sedang ramai mempermasalahkan pembakaran spanduk operator terbesar yang disinyalir dilakukan oleh operator pesaingnya.
Persaingan antar operator telekomunikasi memang sudah semakin tidak sehat. Misalnya ada iklan yang isinya hanya menyontek operator lain sampai ada yang mengejek atau menjatuhkan operator lain dan sebagainya.
Sebagian pihak menganggap peperangan ini ibarat “Gajak Berkelahi Pelanduk Mati di Tengah”. Sementara ada juga sebagian yang menganggap bahwa peperangan atau persaingan antar operator ini malah menguntungkan karena tarif yang semakin murah, walaupun kualitasnya memburuk. Untuk itu pelanggan perlu menuntut adanya Quality of Service. Padahal yang paling dibutuhkan oleh pelanggan adalah kelancaran berkomunikasi. Ga ada artinya juga jika tarifnya murah, tapi menjadi susah menghubungi atau telepon sebentar putus lagi.
Pernah ada sentilan yang menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara yang sangat menyenangkan untuk dijadikan coba-coba, karena perlindungan terhadap konsumen sangat minim. Jadi jika operator seenaknya saja bikin promosi tanpa memperhatikan kesiapan jaringannya, itu sangatlah wajar.
Dari salah satu milis yang saya ikuti, seorang rekan dari Surabaya menyebutkan bahwa di tempatnya itu sejak beberapa waktu lalu tertempel selembar cetakan berukuran A4. Isinya perbandingan tarif antara tarif manusia, tarif cumi, seperti yang terlihat dari gambar di atas. Di situ, Simpati disebutkan sebagai tarif manusia dengan kesimpulan bahwa “tarif manusia, wajar masuk akal, puas kualitasnya, puas murahnya.” Kemudian disebelahnya ada Tarif Cumi yang mengacu pada IM3 yang diberi kesimpulan “namanya aja cumi, ya cuma miskal.. mahal siy!”. Terakhir adalah tarif monyet yang mencu pada XL yang diberi kesimpulan “monyet gak bisa ngitung. Ngomong bentar, ngomong lama, kok sama mahalnya”. (continue reading…)
Dana ZIS Rp. 19,3 Triliun Itu Masih Belum Mampu Tuntaskan Kemiskinan
by mrbambang on Okt.17, 2008, under Tak Berkategori

Demo zakat di BHI. sumber gambar : http://www.ydsf.or.id
Ternyata, nilai orang yang melakukan zakat infaq dan shodaqoh (ZIS) di Indonesia terbilang sangatlah besar. Nilainya cukup mencengangkan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), potensi zakat di Indonesia mampu mencapai Rp19,3 triliun!
Jumlah sebesar ini tentu bertolak belakang dengan kondisi perekonomian mengenaskan yang dialami oleh jutaan umat muslim di Indonesia.
Hanya saja, potensi penghimpunan dana tersebut hingga saat ini masih belum optimal. Hanya sekitar 5 – 7 persen saja yang mampu diserap oleh lembaga-lembaga filantropi modern atau di kisaran Rp1,3 triliun saja. Dana tersebut oleh lembaga-lembaga tersebut biasanya akan dikelola secara modern yang digunakan untuk pemberdayaan ekonomi umat. Selain itu, menurut CSRC UIN Syarif Hidayatullah, aset wakaf yang mencapai Rp. 590 triliun pun sebagian besar masih untuk membangun komplek makam dan masjid mewah di tengah pemukiman kumuh.
Trus, 90 % lebih dana ZIS tersebut lari kemana? Tidak, tidak dikorupsi, paling saya belum mendengar kasus ini muncul di permukaan. Nilai yang jauh lebih besar yaitu dana 90 persen itu disalurkan oleh masyarakat secara langsung kepada masyarakat miskin yang membutuhkan. Ironisnya, bantuan secara langsung ini tidak akan mampu meningkatkan taraf hidup, malah cenderung memberikan efek ketergantungan dan melestarikan kemiskinan itu sendiri.
Salah satu contoh real adalah pembagian zakat yang dilakukan oleh orang kaya di Pasuruan Ramadhan silam. Zakat yang dibagikan kepada ribuan penduduk yang masing-masing orang hanya mendapat Rp. 30 ribu itu berakhir dengan kericuhan yang membuat 21 warga tewas. Tragedi yang sangat memilukan sekaligus memalukan. Pemberian zakat seperti ini sepertinya juga terbukti sangat tidak efektif.
Memang, tidak ada yang melarang untuk berzakat seperti itu dengan memberikan langsung kepada penerima zakat atau mustahik. Tapi jika zakat yang seharusnya bisa digunakan untuk memperbaiki ekonomi umat ini ternyata tidak mampu berbuat demikian, apakah tidak lebih baik berzakat atau beramal yang produktif.
Sering juga kita melihat di jalan-jalan, orang yang meminta sumbangan untuk pembangunan masjid. Mereka berada di tengah jalan, membuat kenyamanan berkendaraan jadi terganggu, ada juga yang masuk ke kendaraan umum maupun berkeliling ke rumah-rumah. Dari acara investigasi yang pernah saya lihat di televisi, ada sebagian dari mereka ini yang mengatasnamakan pembangunan masjid padahal untuk dipakai sendiri, walaupun ada juga memang yang benar-benar untuk pembangunan masjid.
Entahlah, mengapa kok sepertinya umat itu rajin sekali membangun masjid. Jaraknya kadang tidak berjauhan. Masjidnya indah-indah yang ironisnya kadang dibandung di tengah pemukiman kumuh. Mungkin saja ini karena memang ada perintah memakmurkan masjid. Tapi apakah memakmurkan masjid selalu identik dengan masjid yang mewah dan megah?
Apakah tidak lebih baik untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan dalam masyarakat? Sayang sekali dana sebesar Rp. 19.3 Triliun itu tidak dimanfaatkan dengan baik. Andaikan dikelola dengan baik untuk pemberdayaan ekonomi umat. Insya Allah negara ini bisa keluar dari krisis ekonomi dengan cepat tanpa perlu minta bantuan dari asing. Juga tidak perlu takut terhadap krisis ekonomi yang menimpa Amerika.




















