Opini
Wajah Sekolah Kita, Wajah Pendidikan Indonesia?
by mrbambang on Feb.04, 2010, under Opini

Murid ketika bersantai di kelas
Selasa kemarin, saya bersama beberapa teman-teman media berkunjung ke sebuah sekolah dasar di daerah puncak, tepatnya di
SDN Cikoneng, Cisarua, Bogor. Bukan dalam rangka kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan, kebetulan tempat itu dekat dengan lokasi acara CSR salah satu vendor dan memang satu-satunya gedung di tengah hamparan pegunungan dengan perkebunan teh.

Menunggu hujanreda
Sampai di sana, langsung disambut dengan hujan deras sehingga acara pun diundur untuk beberapa waktu lamanya. Masa menunggu ini saya manfaatkan dengan melihat-lihat kondisi sekolahan tersebut. Sekaligus nostalgia mengenang masa-masa masih SD. Cukup miris melihat kondisi sekolahan yang seperti ini. Tidak terawat. Meskipun saya tahu -berdasar info di media cetak dan elektronik- bahwa selain sekolah ini, sangat banyak kondisi sekolah lain di Indonesia yang mengalami nasib serupa. Ratusan, mungkin ribuan.
Wajah-Wajah Caleg Kita
by mrbambang on Feb.26, 2009, under Opini
Saya lihat potret M. Tongtongsot dari Partai Bulan Pecah terpasang berdampingan dengan gambar G. Gundulpringis dari Partai Bintang Bujel. Kedua-duanya terpampang dengan muka lurus ke depan, dengan tatapan tanpa emosi, seperti foto ijazah kursus montir. Dengan kata lain, orang-orang itu memasarkan diri bukan sebagai pribadi, dengan watak yang tersendiri. Yang tampak di sana hanyalah sebuah tipe. Tipe itu menyatukan entah berapa banyak potret yang berderet-deret, hampir tanpa jarak, dengan nama-nama yang tak akan kita tangkap dengan jelas, apalagi kita ingat, ketika kita lewat di atas motor atau bus. Seorang kawan yang berpengalaman memilih foto wajah buat sampul majalah menyatakan penilaiannya kepada saya: ”92% dari deretan wajah itu tak menarik.” Ia mengatakannya dengan yakin: ”Saya telah berjalan dari ujung Jawa Timur sampai Banten untuk mengamati potret kampanye.”
Begitu tulis Goenawan Mohamad di catatan pinggirnya (caping) yang berjudul “Potret”. Mungkin ada benarnya apa yang ditulis oleh GM dan dipertegas oleh temannya tersebut. Yaitu wajah-wajah caleg kita yang kalau melihatnya bisa tertawa sampai terkekeh-kekeh tapi disamping itu juga miris. Seperti terlihat dari gambar spanduk yang sempat diabadikan oleh orang-orang kemudian tersebar di berbagai milis dan juga janganbikinmalu2009. Contohnya seperti ini :

Semakin Ngepres di Hari Press
by mrbambang on Feb.10, 2009, under Opini

Agak ironis memang, tapi itulah yang terjadi. Tadi saya baru menerima press release yang disebar melalui salah satu milis media. Seperti ini isinya.
Ketua SPS Telantarkan
Karyawan Indonesia Business Today
JAKARTA — Sungguh ironis, konglomerat pers yang juga ketua Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS), Dahlan Iskan, ternyata menelantarkan karyawannya. Itulah yang terjadi pada Harian Indonesia Business Today. Koran yang dimiliki oleh Dahlan Iskan tersebut, mulai Kamis (5/2) menghentikan kegiatannya.
Penghentian penerbitan tersebut merupakan puncak kekecewaan para awak Indonesia Business Today kepada Dahlan. Di antara kekecewaan tersebut adalah belum dibayarnya gaji karyawan. Karyawan sendiri sebenarnya sudah mencoba menuruti kemauan Dahlan yang mencoba melakukan efisiensi dengan mengubah koran yang berdiri sendiri menjadi sisipan di Indo Pos.
November 2008, di kantor Indonesia Business Today, di kawasan Fatmawati Jakarta, Dahlan mengatakan bahwa kondisi ekonomi dunia yang sedang dilanda krisis pasti akan mengimbas ke Indonesia. “Sebelum krisis melanda, kita harus sudah mengantisipasinya,”ujar Dahlan ketika itu.
Karena itulah, lanjut Dahlan, ”Kita harus melakukan upaya agar tidak tergilas oleh krisis.” Solusi yang ditawarkan oleh Dahlan adalah melakukan penggabungan dua koran, yakni Indonesia Business Today dengan Indo Pos. Penggabungan itu dilakukan dengan pertimbangan bahwa masing-masing punya kelebihan. Indonesia Business Today kuat di rubrik-rubrik ekonomi, sementara Indo Pos, katanya kuat di politik.
Jika kelebihan-kelebihan itu digabungkan, tentu akan menghasilkan produk atau koran yang unggul di semua lini. Sehingga diharapkan, sinergi tersebut bisa menjadi senjata yang ampuh untuk memenangkan persaingan media cetak yang makin tajam belakangan ini.
Ketika ide itu dilontarkan, banyak karyawan Indonesia Business Today yang merasa resah. Karena bukan tidak mungkin jika itu dilakukan, pasti akan mengurangi jumlah karyawan. Hal itu bukan tanpa alasan. Soalnya, bagaimana mungkin mempertahankan jumlah karyawan yang ada sementara jumlah halaman yang harus dikerjakan dipotong hanya tinggal sepertiga. Yaitu dari 24 halaman menjadi hanya 8 halaman saja. Selain itu, divisi sirkulasi dan iklan juga akan disatukan.
Mulai Penggabungan
Rencana itu pun, mulai dijalankan. Beberapa kali rapat koordinasi dilakukan antara pihak Indo Pos dengan Indonesia Business Today. Nama-nama karyawan yang akan dipekerjakan dalam kerjasama ini pun mulai dibahas, termasuk berapa mereka akan menerima gaji.
Alangkah kagetnya para awak redaksi Indonesia Business Today ketika mendengar usulan dari Indo Pos, bahwa gaji karyawan Indonesia Business Today akan dipotong dengan besaran yang tidak tanggung-tanggung. Dalam kerjasama tersebut, awak Indonesia Business Today akan dipotong gajinya antara 20 persen sampai 50 persen. Bahkan ada yang diturunkan posisinya dari redaktur menjadi reporter dengan potongan gaji hingga 70 persen. Selain itu, dari sekitar 130 karyawan yang ada, hanya 28 yang akan diterima menjadi bagian koran Indo Pos baru tersebut. Mereka adalah awak redaksi semua.
Tentu saja usulan tersebut sangat memukul para awak Indonesia Business Today. Manajemen mengusulkan agar Indonesia Business Today ditutup, dengan pemberian hak yang seharusnya diterima karyawan. Sebab, dengan hanya 28 orang yang “diangkat” sebagai karyawan percobaan di Indo Pos artinya Indonesia Business Today sudah mati.
Dalam pertemuan 30 Desember 2008, antara Komisaris Utama PT Indonesia Business Today Dahlan Iskan dengan Direktur Utama PT Indonesia Business Today Nanik S Deyang, disepakati Indonesia Business Today tetap terbit namun jadi sisipan Indo Pos. Tidak ada pemutusan hubungan kerja. Namun, gaji karyawan direvisi dengan potongan 10 persen hingga 25 persen, sesuai posisi karyawan. Maka, sejak 5 Januari 2009, resmilah Indo Pos cetak 32 halaman dengan 8 halaman Indonesia Business Today.
Meski dikatakan tidak ada pengurangan karyawan, namun dengan 8 halaman tersisa mau tidak mau tetap ada karyawan yang diberhentikan, baik redaksi maupun terutama nonredaksi. Pada Januari 2009 ini, ada 76 karyawan redaksi dan nonredaksi di-PHK tanpa pesangon.
Rupanya, kesepakatan hanya tinggal kesepakatan, karena Dahlan Iskan sama sekali tidak menepati janji. Akhir Januari 2009, para awak Indonesia Business Today ternyata tidak menerima gaji seperti yang dijanjikan. Sepekan sebelum tanggal gajian, manajemen sudah menghubungi Dahlan Iskan, namun tak pernah sekali pun dijawab.
Pada hari Senin, 2 Januari 2009, pihak Indo Pos menginformasikan bahwa mereka hanya membayar gaji 28 orang yang pertama kali mereka “minta bergabung di Indo Pos”. Sementara karyawan lain, termasuk awak produksi yang me-layout Indonesia Business Today, tidak diberi gaji. Tentu saja hal ini ditolak, karena kesepakatan 30 Desember 2008 dengan Dahlan Iskan tidak demikian. Dahlan Iskan sendiri tak bisa dihubungi. Telepon tak diangkat, SMS tak dijawab.
Tanggal 4 Februari 2009, karyawan meminta direksi untuk memberi kepastian, apakah bulan Febuari ini karyawan yang bekerja tetap akan digaji. Direksi tidak berani memberi kepastian, karena gaji bulan Januari saja belum dibayar. Bahkan, hingga Sabtu, 7 Februari 2009, tak sepeser pun dana dari Dahlan Iskan maupun Indo Pos yang dikirimkan.
Karena direksi tak memberi kepastian, karyawan pun memutuskan untuk mogok tidak bekerja. (*)
Informasi lebih lanjut:
Wahid Rahmanto
(Ketua Forum Karyawan Indonesia Business Today)
Saya pernah dengar ada pameo yang walaupun mungkin tidak sepenuhnya benar mengatakan, “kalau ingin kaya, jangan jadi wartawan“. Profesi wartawan memang tidak menjanjikan harta menggiurkan seperti yang lain. Maka dari itu, berfikir ulanglah jika mau menjalani profesi ini
.
Barack Husein Obama
by mrbambang on Jan.21, 2009, under Opini
Baru saja saya pulang dari STARBUCKS Sarinah, diajak ngopi sama rekan kerja. Di warung kopinya Amerika ini tidak ada sesuatu yang istimewa. Seperti biasa saja (padahal saya juga baru pertama kali ke situ). Berbeda dengan suasana di negara asalnya sana yang begitu gegap gempita. Setidaknya begitu yang saya lihat di televisi sesampainya di kost.
Sayang sekali ketika baru saja menghidupkan tv, Obama baru saja selesai pidato. Walaupun mungkin kalau melihatnya dari awal, tetep saja gak mudeng
.
Beruntunglah di beberapa stasiun TV ada bincang-bincang dengan narasumber yang membahas mengenai peresmian Obama sebagai presiden ke 44 Amerika Serikat ini.
Saya secara pribadi meskipun bukan warga Amerika mengucapkan selamat atas resminya Obama sebagai Presiden. Tapi sesuai dengan pesan narasumber di televisi, jangan Over Optimistik terhadap Obama. Ada juga hal krusial yang tidak dibicarakan Obama tadi. Jadi ya, biasa ajalah…
*siap-siap menutup Opera Mini di P1i dan menuju alam mimpi. Siapa tahu ketemu Obama di sana*
Hadiah Tahun Baru
by mrbambang on Des.31, 2008, under Opini

Seperti sudah kita ketahui bersama di berbagai media massa, bahwa sejak Sabtu (27/12), Israel terus-menerus mebombardir jalur Gaza Palestina. Lebih dari 300 orang gugur dan ribuan lainnya luka berat. Semuanya mencakup warga sipil termasuk diantaranya anak-anak dan perempuan. Selain menewaskan ratusan orang, Zionis juga menghancurkan fasilitas umum seperti masjid, universitas dan sebagainya.
Itulah hadiah tahun baru spesial dari Zionis Israel kepada muslim di Palestina. Bahkan tidak hanya yang di Palestina, seluruh umat Islam di dunia ikut merasakan sakit. Umat manusia yang beradab di berbagai belahan dunia mengutuk perbuatan ini.
Menyedihkan memang, di saat-saat kebanyakan manusia akan merayakan tahun baru dengan berbagai cara, saudara-saudara kita bertahan antara hidup dan mati. Beberapa saudara kita di Indonesia ada yang berniat menjadi relawan ikut berjuang ke Palestina. Kita patut salut kepada mereka. Walaupun bentuk kepedulian atau solidaritas itu tidak melulu harus pergi ke sana. Kita bisa ikut memberikan bantuan berupa sumbangan dana atau yang lainnya karena para warga di Palestina juga sangat membutuhkan hal ini. Paling minimal adalah, kita mendoakan saudara-saudara kita di Palestina.
Beberapa lembaga membuka layanan penerimaan bantuan donasi untuk Palestina, salah satunya adalah Dompet Dhuafa seperti yang terlihat pada banner di atas. Yuk, kita ikut memberikan “hadiah” tahun baru kepada Palestina dengan menyumbang dana seikhlasnya
Selamat tahun baru 2009. Semoga menjadi tahun yang penuh dengan kedamaian
Update :
Alternatif donasi kemanusiaan untuk Palestina :
1. Dompet Dhuafa Republika an. Dompet Dhuafa Republika
- Bank Muamalat rekening 301 002 1815
- BNI cab. Fatmawati rekening 000 529 9527
- BCA cab. Pd. Indah rekening 237 300 6343
2. Aksi Cepat Tanggap (ACT) an. Aksi Cepat Tanggap
- BCA rekening 676 030 0860
- Bank Syariah Mandiri rekening 101 000 5557
- Permata Syariah rekening 0971 001224
- Muamalat rekening 304 0023 015
3. KNRP an Komite Nasional untuk Rakyat Palestina
- BCA No. 760-032-5099
4. KISPA - Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina
Bank Muamalat Cab. Slipi No. 311-018-5622 an Nurdin qq Kispa
5. MER-C
Donasi via SMS, Ketik : MERC PEDULI kirim ke 7505 untuk memberikan donasi Rp 5000/SMS.









