Calon Penghuni Cipinang
by mrbambang on Apr.30, 2008, under Intermezzo
CIPINANG. Mendengar nama ini, yang terpikir pertama kali adalah suatu kawasan yang terkenal dengan Lembaga Pemasyarakatan (LP). Ribuan tahanan atau narapidana (napi) mendekam di LP. Cipinang. Mereka menjadi penghuni Cipinang dilatari kejahatan yang beragam. Mulai dari pencurian, penipuan, perampokan, narkoba, terorisme, kejahatan HAM berat sampai kejahatan ekonomi dan korupsi. Meskipun mereka adalah narapidana dan telah mendekam di tahanan, memperlakukan mereka dengan semena-mena bukanlah tindakan bijak. Seperti diungkapkan oleh Dr. Sahardjo, S.H yang tulisannya di-quote di Blog Narapidana.
Tiap Orang Adalah Manusia Dan Harus Diperlakukan Sebagai Manusia, Meskipun Ia Telah Tersesat, Tidak Boleh Ditunjukkan Pada Narapidana Bahwa Ia Itu penjahat. Sebaliknya Ia Harus Selalu Merasa Bahwa Ia Dipandang Dan Diperlakukan Sebagai Manusia
Apalagi, pengadilan di Indonesia terkadang bisa memasukkan orang tidak bersalah ke penjara. “Mereka belum tentu bersalah. Ada yang sengaja dijebak atau kejebak, tertangkap atau direkayasa karena keinginan kekuasaan ataupun tidak mempunyai uang,” ujar Rahardi Ramelan seperti dikutip dari MyRMNews.Com. Rahadri Ramelan juga termasuk salah satu orang yang pernah mendekam di LP Cipinang dan didapuk sebagai ketua asosiasi NAPI.
Begitulah. Pengadilan di dunia memang seringkali tidak adil. Lihat saja, banyak jaksa yang akhirnya tertangkap basa oleh KPK terkait kasus BLBI. Pengadilan yang adil dengan sebenarnya hanyalah Pengadilan Akhirat.
Trus mengapa tiba-tiba saya membahas tentang Cipinang? Hal ini karena besok, tepatnya per tanggal 1 Mei saya resmi vonis menjadi penghuni Cipinang.
Mengapa kok tiba-tiba saya menjadi penghuni Cipinang? Yah… begitulah, tidak perlu saya ceritakan semuanya. Yang jelas saya merasa tidak bersalah.
Saat ini, saya tinggal di bilangan Gajah Mada, Jakarta. Oleh beberapa orang, daerah ini dikenal sebagai tempat “berhawa panas”. Gajahmada, Hayamwuruk, Mangga besar memang cukup terkenal dengan bisnis esek-esek dan dugem yang menjanjikan “surga dunia” dan juga “neraka akhirat”.
Salah satu bukti mencolok, coba sesekali jalan melewati Gajah Mada menuju Glodok di malam hari. Anda akan melihat begitu banyak pedagang obat kuat yang berjejer di sepanjang jalan tersebut. Dari jauh seperti penjual rokok, tapi dari dekat ternyata penjual aksesoris begituan.
Saya juga cukup kaget ketika pertama kali melihatnya. Pemandangan baru ketika menginjakkan kaki di Jakarta. Tapi bukan. Bukan karena ini saya menjadi penghuni Cipinang. Saya tidak pernah berurusan dengan mereka.
Doakan saja saya bisa menjalani dengan baik. Saya sendiri kurang tahu persis kapan akan bertahan di sana. Halah, ini kok malah jadi seperti curhat









